jump to navigation

Magsaysay The People’s President November 12, 2008

Posted by D. Pratama D in tokoh.
add a comment


Nama Ramon Magsaysay melegenda bukan dikarenakan peristiwa naas yang menimpanya, malam 17 Maret 1957. Kecelakaan pesawat di Cebu itu sekaligus membawa kematiaannya. Namun kematian itu tak membuat kisah heroik dan kebijakan-kebijakannya hilang ditelan waktu.

Ramon Magsaysay yang mempunyai darah campuran Melayu, Cina dan Spanyol ini lahir di Iba, ibu kota Provinsi Zambales, 31 Agustus 1907. Kelahirannya dikabarkan tidak sebaik keadaan bayi-bayi lain. Begitu yang dituturkan bidan Lola Ihay kepada ibunya, Perfecta Magsaysay. Tengkorak Ramon Magsaysay tidak sempurna, lebih lunak, bahkan ada cekungan pada ubun-ubunnya. Bidan sendiri memprediksikan bahwa Ramon Magsaysay tidak dapat bertahan lama. Namun keteguhan hati Perfecta dalam merawat anaknya akhirnya, Ramon Magsaysay dapat mempertahankan hidupnya dan kemudian mengukir nama besarnya pada dunia.

46 tahun kemudian, Ramon Magsaysay terpilih menjadi Presiden ketiga Filipina. Ia menang telak terhadap Elpidio Quirino, Presiden Filipina sebelumnya. Padahal, Ramon Magsaysay sendiri adalah bagian dari kabinet Quirino yang menjabat sebagai Menteri Petahanan, namun kharismanya sanggup menarik simpati rakyat Filipina. Ia sanggup mengalahkan Quirino hampir di semua provinsi. Dalam pemilihan, Ramon Magsaysay memperoleh 2,9 juta suara, sedangkan Quirino hanya mengumpulkan 1,3 juta suara.

Keberhasilannya menduduki jabatan presiden tak lepas dari usaha Carlos Romulo, seorang intelektual yang pada awalnya ingin ikut mengambil kesempatan bertanding pada pemilihan presiden. Namun melihat kharisma kepemimpinan pesaingnya, ia mengurungkan keinginannya dan kemudian berbalik mendukung Ramon Magsaysay.

Bisa jadi ini adalah pemerintahan terbesar Filipina, hingga saat ini. Pemerintahan Ramon Magsaysay yang propublik serta memprioritaskan pengentasan kemiskinan membawa Filipina kepada kharisma politik yang baik di era pemerintahannya. Dia telah berhasil mengubah pola pikir petani agar tidak lagi menjadi mainan tikus politik dan komunis.

Era pemerintahan Ramon Magsaysay merupakan masa di mana dunia timur sedang dipengaruhi oleh komunis. RRC, Uni Soviet, dan Indonesia menjadi basis kedudukan terkuat bagi komunis. Tapi ia adalah sosok anti komunis. Bahkan sebagai pemimpin di daerah Asia Tenggara saat itu, keberaniannya untuk mendukung politik luar negri Amerika Serikat dalam melawan komunis patut diacungi jempol. Gerakan Hukbalahap (Hukbo ng Bayan Laban sa Hapon yang berarti ”Tentara Rakyat Anti-Jepang”) yang pada akhirnya dikuasai kaum komunis Filipina berhasil ditumpasnya. Kendati masih meninggalkan sisa, namun sebuah pencapaian luar biasa saat itu.

Pemerintahan Quirino yang dilanjutkan menitipkan banyak permasalahan masyarakat. Perekonomian yang masih memprihatikan, perpolitikan dalam negara masih kacau, ditambah angin komunis yang bisa kapan saja membalikkan masyarakat untuk melakukan pertentangan karena himpitan kehidupan. Tapi Ramon Magsaysay sendiri memahami bahwa kesejahteraan merupakan kunci utama untuk menghindari hempuran sosial dari komunis.

Pemerintahan propublik, promassa, dan perpolitikan yang bersih yang dijalankannya membawa namanya menjadi Presiden Rakyat. Sebutan ini dikokohkan oleh seorang penulis biografi, Manuel F. Martinez dalam bukunya yang berjudul: Magsaysay The People’s President. Dalam buku itu dituliskan beberapa kekuatan dan kelemahan dalam pemerintahannya. Kelemahan Ramon Magsaysay yang diceritakan buku ini adalah sikap ketus dan ‘pelit’ akan fasilitas-fasilitas kepada familinya. Tapi ini menunjukkan nepotisme di negara itu telah dipangkas oleh Ramon Magsaysay bahkan dari dirinya sendiri.

Caranya dalam memerintah telah memberikan tata kelola pemerintahan yang baik, sekalipun berbagai bentuk perlawanan pernah bergejolak pada masa pemerintahannya. Dia menunjukkan bahwa pemerintahan yang baik itu dapat ditegakkan hanya dengan ketegasan dan kelembutan. Salah satu ucapannya yang banyak dikutip orang: “Saya akan penjarakan ayah sayasendiri jika melanggar hukum.”

Kewibawaannya dalam memimpin menginspirasi berbagai kalangan. Sebuah program dari RMAF (Ramon Magsaysay Award Foundation), yayasan yang memberikan penghargaan terhadap perseorangan atau lembaga di Asia yang telah mengaplikasikan enam gagasan Ramon dalam berbagai bidang: pelayanan pemerintahan, jurnalisme-sastra-seni-komunikasi kreatif, kepemimpinan komunitas, pelayanan publik, kepemimpinan heroik dalam situasi berbahaya (emergent leadership), perdamaian dan pengertian internasional. Penghargaan ini bahkan telah menjelma layaknya ‘nobel’ dalam lingkupan Asia. (*Dedet Pratama Dinata/berbagai sumber)

Iklan

Umar bin Khattab, Dari Abu Hafs Hingga Amirul Mukminin November 12, 2008

Posted by D. Pratama D in tokoh.
3 comments


Abu Bakar as-Sidiq, khalifah Islam pertama itu merasakan ajal semakin dekat menjemputnya. Namun cuaca futuhat islamiyah (perang pembebasan Islam) tengah memanas. Pasukan Islam sedang melangkah ke penjuru dunia demi misi mulia, namun sang khalifah merasakan waktunya semakin tipis. Rasa takut akan terjadinya perpecahan di tubuh umat membuatnya harus segera mengambil tindakan yang tepat. Saat itulah muncul nama Umar bin Khattab sebagai sosok terbaik untuk menjadi khalifah selanjutnya.

‘’Bismillahirrahmanirrahim. Inilah yang diwasiatkan oleh Abu Bakar kepada kaum Muslimin. Amma ba’du. Sesungguhnya aku telah menunjuk untuk kalian Umar ibn al-Khattab sebagai khalifah pengganti, demi kebaikan kalian.’’ Umar bin Khattab dipilih sebagai khalifah pada tahun 634 M melalui sebuah surat wasiat dari Abu Bakar. Hal ini dilakukan karena Abu Bakar menyadari bahwa Umar bin Khattab adalah pilihan terbaik saat itu, di samping itu Abu Bakar juga memastikan bahwa para sahabat juga berpandangan sama terhadap Umar bin Khattab. Sejarah tidak mencatat adanya kelompok maupun pihak manapun dalam Islam yang menentang keputusan tersebut.

Umar bin Khattab lahir pada tahun 513 M dari keluarga terpandang suku Quraisy. Pada masa awal dakwah Islam dilakukan oleh Rasulullah, Umar bin Khattab bergelar Abu Hafs (musuh utama Nabi) karena sikapnya yang begitu tegas menentang dakwah Nabi Muhammad SAW yang dianggap memporak-porandakan kepercayaan pendahulunya. Bahkan karena ketegasannya itu, ia sempat ingin membunuh saudara perempuannya yang memeluk Islam.

Dikisahkan, saat Umar bin Khattab menghampiri adik perempuannya tersebut dengan tujuan tak lain untuk membunuhnya, ia mendengar saudaranya itu tengah melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Seketika hatinya luluh dan menyatakan masuk Islam serta menjadi pelindung dan pembela Nabi yang paling tangguh. Gelar Abu Hafs pun akhirnya berganti dengan al-Farouq. Setelah pengangkatannya sebagai khalifah, sahabat dan masyarakat Islam lebih sering memanggilnya dengan sebutan Amirul Mukminin (Pemimpin orang mukmin).

Masa kekhalifahan Umar bin Khattab berjalan lebih kurang sepuluh tahun. Situasi yang kondusif dalam Negara Islam saat itu memberikan kesempatan yang besar baginya untuk melanjutkan ekspansi militer ke wilayah yang lebih luas. Penataan terhadap pemerintahan juga dilakukan dengan sangat baik.

Beberapa hal yang menyangkut akidah dan kemasyarakatan juga tak lepas dari perhatiannya. Umar bin Khattab memulai penanggalan Hijriah, dan melanjutkan pengumpulan catatan ayat Qur’an yang dirintis Abu Bakar. Ia juga memerintahkan salat tarawih berjamaah terhadap seluruh umat muslim saat itu.

Pada tahun 638 M Umar bin Khattab memerintahkan untuk merenovasi dan memperluas Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Selanjutnya ia melakukan perubahan besar dalam sistem pemerintahan saat itu. Ia membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Kontrol terhadap kebijakan publik juga diperketat, selanjutnya ia dengan gencar melakukan penataan dan proses kodifikasi terhadap hukum Islam.

Banyak pertempuran-pertempuran besar terjadi di masa ini, namun Islam selalu maju sebagai pemenang. Ekspansi ke wilayah Syiria pada tahun 635 M contohnya. Damaskus berhasil ditaklukkan dari tangan Byzantium, satu tahun berikutnya pasukan Byzantium berhasil dikalahkan dalam perang Yarmuk. Seluruh Syiria terkuasai. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, pasukan Islam juga berhasil menaklukkan Mesir dan Irak. Akhirnya tiga imperium Persia, Byzantium dan Romawi Timur hingga wilayah-wilayah Sasaniah tunduk dalam kekhalifahannya.

Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M, saat memimpin sholat subuh Umar bin Khattab ditikam oleh seorang Parsi bernama Firuz (dalam sumber lain Abu Lukluk) dari belakang menggunakan pisau beracun. Konon pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh dendam pribadi. Namun ini adalah pembunuhan pertama seorang muslim terhadap muslim lainnya. Ummar dimakamkan di sebelah makam Rasulullah SAW.

Wafatnya Umar bin Khattab menandakan berakhirlah kekhalifahan yang berjalan sekitar sepuluh tahun itu. Akhirnya setelah kematian Umar bin Khattab, Usman bin Affan mengambil alih tampuk pimpinan negara Islam. (*Dedet Pratama Dinata/berbagai sumber)

"Deus le Volt!", Paus Urban II Pemercik Api Perang Salib November 3, 2008

Posted by D. Pratama D in tokoh.
6 comments

Sejarah Perang Salib telah merubah dunia. Merobah ‘wajah’ Kristen dan Islam, antara Eropa dan peradaban tetangganya. Tapi tak banyak yang mengetahui siapa yang telah memprakarsai perang tersohor itu. Dialah Paus Urban II, sosok dengan pengaruhnya yang sangat luar biasa.
Perang Salib telah memberinya cacatan sebagai sosok yang pernah memberikan pidato paling berpengaruh di dunia. Tindakannya itu membuatnya tampil sebagai seseorang yang menyulut api perperangan antara konflik dua peradaban besar saat itu.
Paus Urban II lahir pada tahun 1042 M di dekat Chatillon-sur-Marne, Perancis. Sebelum nama Paus disandangnya, Odo de Lagery adalah nama aslinya. Dia lahir dari keluarga bangsawan Prancis. Keadaan ini membuatnya mendapatkan pendidikan yang baik. Menginjak masa muda dia memulai pengabdiannya di kota Rheims sebagai pendeta. Perkembangan kepekaannya terhadap berbagai permasalahan kemasyarakatan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi membuat posisinya semakin meningkat. Mulai dari pendeta kemudian jadi bishop. Pada tahun 1088 akhirnya ia terpilih sebagai Paus.
Dia adalah seorang Paus yang bertalenta. Mata dan telinganya terlalu peka terhadap setiap keadaan yang menguntungkan. Nama besar baginya dimulai pada 27 November 1095. Dalam sebuah persidangan gereja di kota Clermont, Perancis yang diprakarsainya, Paus Urban II mengucapkan pidato termashur di dunia. Pidato yang mengubah benua Eropa berabad-abad kemudian. Di depan beribu-ribu masyarakat Kristen, dia memprotes apa yang dilakukan oleh orang Turki Seljuk. Masyarakat Islam itu telah menduduki Tanah Suci. Akibatnya tempat itu jadi terkotori atas pendudukan Islam. Masyarakat Kristen yang berziarah tidak lagi merasakan ketanangan.
Sebagai jalan keluar, Paus Urban II memberikan sebuah solusi. Dia menyerukan agar umat Kristen bersatu untuk melakukan ‘perang suci’, demi misi merebut kembali Tanah Suci. Paus Urban II bukanlah seorang pemimpin yang tidak bisa berorasi. Pidato yang diucapkannya telah membakar semangat dan amarah. Tanah Suci itu merupakan daerah yang amat subur, jauh lebih baik daripada daratan yang merka tempati saat ini. Sedikit tambahan, dia menjamin siapapun yang ikut berperang demi membela pihak Kristen, mereka akan dibebaskan dari dosa dan terhindar dari hukum balasan.
Ajakan yang menggiurkan, suara dari surga. Jaminan yang tidak akan dilewatkan. “Deus le Volt!” (Tuhan menghendakinya), teriakan massa menggema di mana-mana. Teriakan ini juga yang nantinya menyulut api semangat tentara Kristen dalam berbagai medan perang. Perang pertama meletus hanya beberapa bulan setelah peristiwan ini, kemudian diikuti rentetan peperangan yang berlangsung dalam hitungan abad. Tapi sebuah dilema mengikuti peristiwa besar ini, Paus Urban II wafat pada tahun 1099, dua minggu pasca perang pertama yang berbuah Darussalam. Kematian menjemputnya sebelum mengetahui hasil yang dicapai.
Sebuah kepastian dalam perang, penawanan tentu akan terjadi, begitu juga dengan Perang Salib. Tindakan ini juga yang bersentuhan langsung dengan perubahan besar-besaran terhadap peradaban. Akulturasi, absorbsi terhadap ilmu dan kebudayaan. Kemajuan peradaban Islam merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan. Akhirnya hal ini menjadi proses penyangga terhadap ‘Renaissance’ yang melahirkan cahaya baru bagi Eropa. Kemajuan peradaban memasuki periode baru.
Nama Paus Urban II tak lepas dari kata yang disebut ‘Renaissance’ itu. Perang bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat menggiring namanya pada daftar bergengsi di dunia. Tapi Perang Salib yang dirintisnya menghasilkan buah di luar skenario peperangan, selain kemenangan dan penguasaan wilayah, perang besar kali ini juga mendatangkan beragam ilmu baru dari peradaban tetangga (Islam).
Kepiawaian dalam melihat perubahan politik dan militer membuatnya tanggap untuk melakukan sesuatu di luar dugaan semua orang. Jika di saat yang sama ada Paus-Paus lain selain Paus Urban II, belum tentu mereka bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukannya. (*D.Pratama D/historyguide.org)