"Deus le Volt!", Paus Urban II Pemercik Api Perang Salib November 3, 2008
Posted by D. Pratama D in tokoh.trackback
Sejarah Perang Salib telah merubah dunia. Merobah ‘wajah’ Kristen dan Islam, antara Eropa dan peradaban tetangganya. Tapi tak banyak yang mengetahui siapa yang telah memprakarsai perang tersohor itu. Dialah Paus Urban II, sosok dengan pengaruhnya yang sangat luar biasa.
Perang Salib telah memberinya cacatan sebagai sosok yang pernah memberikan pidato paling berpengaruh di dunia. Tindakannya itu membuatnya tampil sebagai seseorang yang menyulut api perperangan antara konflik dua peradaban besar saat itu.
Paus Urban II lahir pada tahun 1042 M di dekat Chatillon-sur-Marne, Perancis. Sebelum nama Paus disandangnya, Odo de Lagery adalah nama aslinya. Dia lahir dari keluarga bangsawan Prancis. Keadaan ini membuatnya mendapatkan pendidikan yang baik. Menginjak masa muda dia memulai pengabdiannya di kota Rheims sebagai pendeta. Perkembangan kepekaannya terhadap berbagai permasalahan kemasyarakatan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi membuat posisinya semakin meningkat. Mulai dari pendeta kemudian jadi bishop. Pada tahun 1088 akhirnya ia terpilih sebagai Paus.
Dia adalah seorang Paus yang bertalenta. Mata dan telinganya terlalu peka terhadap setiap keadaan yang menguntungkan. Nama besar baginya dimulai pada 27 November 1095. Dalam sebuah persidangan gereja di kota Clermont, Perancis yang diprakarsainya, Paus Urban II mengucapkan pidato termashur di dunia. Pidato yang mengubah benua Eropa berabad-abad kemudian. Di depan beribu-ribu masyarakat Kristen, dia memprotes apa yang dilakukan oleh orang Turki Seljuk. Masyarakat Islam itu telah menduduki Tanah Suci. Akibatnya tempat itu jadi terkotori atas pendudukan Islam. Masyarakat Kristen yang berziarah tidak lagi merasakan ketanangan.
Sebagai jalan keluar, Paus Urban II memberikan sebuah solusi. Dia menyerukan agar umat Kristen bersatu untuk melakukan ‘perang suci’, demi misi merebut kembali Tanah Suci. Paus Urban II bukanlah seorang pemimpin yang tidak bisa berorasi. Pidato yang diucapkannya telah membakar semangat dan amarah. Tanah Suci itu merupakan daerah yang amat subur, jauh lebih baik daripada daratan yang merka tempati saat ini. Sedikit tambahan, dia menjamin siapapun yang ikut berperang demi membela pihak Kristen, mereka akan dibebaskan dari dosa dan terhindar dari hukum balasan.
Ajakan yang menggiurkan, suara dari surga. Jaminan yang tidak akan dilewatkan. “Deus le Volt!” (Tuhan menghendakinya), teriakan massa menggema di mana-mana. Teriakan ini juga yang nantinya menyulut api semangat tentara Kristen dalam berbagai medan perang. Perang pertama meletus hanya beberapa bulan setelah peristiwan ini, kemudian diikuti rentetan peperangan yang berlangsung dalam hitungan abad. Tapi sebuah dilema mengikuti peristiwa besar ini, Paus Urban II wafat pada tahun 1099, dua minggu pasca perang pertama yang berbuah Darussalam. Kematian menjemputnya sebelum mengetahui hasil yang dicapai.
Sebuah kepastian dalam perang, penawanan tentu akan terjadi, begitu juga dengan Perang Salib. Tindakan ini juga yang bersentuhan langsung dengan perubahan besar-besaran terhadap peradaban. Akulturasi, absorbsi terhadap ilmu dan kebudayaan. Kemajuan peradaban Islam merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan. Akhirnya hal ini menjadi proses penyangga terhadap ‘Renaissance’ yang melahirkan cahaya baru bagi Eropa. Kemajuan peradaban memasuki periode baru.
Nama Paus Urban II tak lepas dari kata yang disebut ‘Renaissance’ itu. Perang bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat menggiring namanya pada daftar bergengsi di dunia. Tapi Perang Salib yang dirintisnya menghasilkan buah di luar skenario peperangan, selain kemenangan dan penguasaan wilayah, perang besar kali ini juga mendatangkan beragam ilmu baru dari peradaban tetangga (Islam).
Kepiawaian dalam melihat perubahan politik dan militer membuatnya tanggap untuk melakukan sesuatu di luar dugaan semua orang. Jika di saat yang sama ada Paus-Paus lain selain Paus Urban II, belum tentu mereka bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukannya. (*D.Pratama D/historyguide.org)
Perang Salib telah memberinya cacatan sebagai sosok yang pernah memberikan pidato paling berpengaruh di dunia. Tindakannya itu membuatnya tampil sebagai seseorang yang menyulut api perperangan antara konflik dua peradaban besar saat itu.
Paus Urban II lahir pada tahun 1042 M di dekat Chatillon-sur-Marne, Perancis. Sebelum nama Paus disandangnya, Odo de Lagery adalah nama aslinya. Dia lahir dari keluarga bangsawan Prancis. Keadaan ini membuatnya mendapatkan pendidikan yang baik. Menginjak masa muda dia memulai pengabdiannya di kota Rheims sebagai pendeta. Perkembangan kepekaannya terhadap berbagai permasalahan kemasyarakatan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi membuat posisinya semakin meningkat. Mulai dari pendeta kemudian jadi bishop. Pada tahun 1088 akhirnya ia terpilih sebagai Paus.
Dia adalah seorang Paus yang bertalenta. Mata dan telinganya terlalu peka terhadap setiap keadaan yang menguntungkan. Nama besar baginya dimulai pada 27 November 1095. Dalam sebuah persidangan gereja di kota Clermont, Perancis yang diprakarsainya, Paus Urban II mengucapkan pidato termashur di dunia. Pidato yang mengubah benua Eropa berabad-abad kemudian. Di depan beribu-ribu masyarakat Kristen, dia memprotes apa yang dilakukan oleh orang Turki Seljuk. Masyarakat Islam itu telah menduduki Tanah Suci. Akibatnya tempat itu jadi terkotori atas pendudukan Islam. Masyarakat Kristen yang berziarah tidak lagi merasakan ketanangan.
Sebagai jalan keluar, Paus Urban II memberikan sebuah solusi. Dia menyerukan agar umat Kristen bersatu untuk melakukan ‘perang suci’, demi misi merebut kembali Tanah Suci. Paus Urban II bukanlah seorang pemimpin yang tidak bisa berorasi. Pidato yang diucapkannya telah membakar semangat dan amarah. Tanah Suci itu merupakan daerah yang amat subur, jauh lebih baik daripada daratan yang merka tempati saat ini. Sedikit tambahan, dia menjamin siapapun yang ikut berperang demi membela pihak Kristen, mereka akan dibebaskan dari dosa dan terhindar dari hukum balasan.
Ajakan yang menggiurkan, suara dari surga. Jaminan yang tidak akan dilewatkan. “Deus le Volt!” (Tuhan menghendakinya), teriakan massa menggema di mana-mana. Teriakan ini juga yang nantinya menyulut api semangat tentara Kristen dalam berbagai medan perang. Perang pertama meletus hanya beberapa bulan setelah peristiwan ini, kemudian diikuti rentetan peperangan yang berlangsung dalam hitungan abad. Tapi sebuah dilema mengikuti peristiwa besar ini, Paus Urban II wafat pada tahun 1099, dua minggu pasca perang pertama yang berbuah Darussalam. Kematian menjemputnya sebelum mengetahui hasil yang dicapai.
Sebuah kepastian dalam perang, penawanan tentu akan terjadi, begitu juga dengan Perang Salib. Tindakan ini juga yang bersentuhan langsung dengan perubahan besar-besaran terhadap peradaban. Akulturasi, absorbsi terhadap ilmu dan kebudayaan. Kemajuan peradaban Islam merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan. Akhirnya hal ini menjadi proses penyangga terhadap ‘Renaissance’ yang melahirkan cahaya baru bagi Eropa. Kemajuan peradaban memasuki periode baru.
Nama Paus Urban II tak lepas dari kata yang disebut ‘Renaissance’ itu. Perang bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat menggiring namanya pada daftar bergengsi di dunia. Tapi Perang Salib yang dirintisnya menghasilkan buah di luar skenario peperangan, selain kemenangan dan penguasaan wilayah, perang besar kali ini juga mendatangkan beragam ilmu baru dari peradaban tetangga (Islam).
Kepiawaian dalam melihat perubahan politik dan militer membuatnya tanggap untuk melakukan sesuatu di luar dugaan semua orang. Jika di saat yang sama ada Paus-Paus lain selain Paus Urban II, belum tentu mereka bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukannya. (*D.Pratama D/historyguide.org)



cengkraman perang salib yang melahirkan kebencian dan kedendaman sampai saat ini masih begitu mencengkeram, sehingga sampai saat ini konflik di timur tengah merupakan buah dari perang salib yang diseru paus urban II.
mengapa kristen barat begitu membenci kaum muslim pada abad pertengahan? padahal dengan kekalifahan muslim pada saat itu, ahlulkitab (yahudi dan kristen) begitu dihornmati sebagai penerima tradisi awal, walaupun mereka merupakan kaum zimi. dibawah kekalifahan muslim, perbedaan agama hidup damai, dan tidak ada yang merasa tertindas. Smapai pada akhirnya kaum judais dan kristen yang menyerang muslim dengan seruan “perang suci”.
Apakah karena ketakutan kristen barat yang mengetahui fakta bahwa kekalifahan islam terbentang luas dari arab, mesir, turki, china, hingga spanyol?
sukses selalu
Beberapa hal yg hrs dipahami ttg perang salib,
1. Org Kristen sesuai ajaran Kristus, tdk akan membalas kebencian dgn kebencian walau dianiaya.
2. Perang salib bukan perang kristen.Dari alasan merekrut prajurit, dikatakan, siapa yg turut dlm perang ini dosanya siampuni. Ini sungguh ajaran yg bertentangan dgn nilai dasar ajaran Kristus.
3.Paus Urban adlh pemicu yg melahirkan peperangan ini dan dunia kerohanian masa itu mayoritas katolik.
4. Jadi prajurit yg ikut perang adlh prajurit katolik, yg tertarik ikut perang krn dpt jaminan dosa mrk bisa dihapus tanpa pertobatan pribadi & mengaku Yesus sbg Tuhan & Juruselamat. sama ketika Martin Luther menancapkan 99 dalil di gereja Wittenberg krn menentang penghapusan dosa oleh surat penghapus dosa yang di jual oleh paus melalui gereja katolik, akibatnya Martin Luther menentang kebijakan gereja katolik maka lahirlah remormasi. Fakta sejarah gereja harus di pahami oleh siapapun supaya tidak terjadi kesalah pahaman tentang terjadinya perang salib
KESIMPULAN :
Perang salib bukan perang orang kristen melawan umat islam tetapi perang yang di picu oleh paus urban pemimipin gereja katolik melawan umat islam.
Jadi jika ada pendapat bahwa orang kristen harus minta maaf kepada umat islam maka saya sangat setuju tetapi yang sebenarnya harus minta maaf adalah gereja roma katolik, dalam hal ini paus sebagai pemimpin umat katolik kepada umat muslim.karena orang kristen mempunyai dasar pengajaran,musuhpun harus di ampuni dan di kasihi walaupun di aniaya.